• Selasa, 4 Oktober 2022

Bolehkah Istri Mengomeli Suami, Ini Jawabannya Berdasarkan Alquran

- Minggu, 17 Oktober 2021 | 17:11 WIB
ilustrasi istri mengomel kepada suami (pixabay)
ilustrasi istri mengomel kepada suami (pixabay)

AGTVnews.com - Istri megomel kepada suami sepertinya saat ini sudah menjadi suatu hal yang lumrah.

Jika ada suatu permasalahan yang tidak sesuai dengan keinginan istri bisa jadi omelan-omelan ini akan keluar dari mulutnya.

Jika sudah mendapt omelan istri, maka suami memilih diam saja atau justru pergi meninggalkan istri yang tengah mengomel.

Baca Juga: Update Jadwal Bioskop CGV Surabaya Kediri Madiun Mojokerto Gresik Probolinggo dan Jember

Bisa jadi omelan ini menjadi satu hal yang memunculkan percekcokan dalam hubungan suami istri.

Seperti yang dikisahakan oleh salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW.

Suatu ketika salah satu sahabat berkeinginan melapor pada Umar bin Al-Khatab tentang kegalauannya akibat diomeli istrinya. Kemudian, berangkatlah beliau berangkat kerumah Umar.

Baca Juga: Kafe Puri Keraton Kahuripan Kediri, Tempat Nongkrong dan Edukasi Budaya

Setiba dirumah Umar bin Al Khatab, sahabat ini mendengar jika Umar diomeli istrinya.

Dalam hatinya sahabat ini berkata 'aku mau melaporkan tindakan istriku yang telah mengomeliku, namun aku mendapati kejadian sama. Kejadian ini dialami oleh Umar'.

Kemudian, sang sahabat itu mengurungkan niatnya untuk lapor saat itu. Dan, beliau kembali pulang. Perjalanan pulang beliau bertanya pada dirinya, 'apakah kejadian itu memperbolehkan istri mengomeli suami?'

Kita perlu menilik pada apa yang telah dilakukan oleh Umar sebagai seorang suami. Dan, apa yang telah dilakukan oleh Istri Umar dalam kacamata sebuah rumah tangga.

Baca Juga: 8 Cara Simpel Membuat Masker Lemon, Dijamin Wajah Lebih Glowing

Surat Ar Rum Ayat 21
وَمِنۡ اٰيٰتِهٖۤ اَنۡ خَلَقَ لَكُمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِكُمۡ اَزۡوَاجًا لِّتَسۡكُنُوۡۤا اِلَيۡهَا وَجَعَلَ بَيۡنَكُمۡ مَّوَدَّةً وَّرَحۡمَةً  ؕ اِنَّ فِىۡ ذٰ لِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوۡمٍ يَّتَفَكَّرُوۡنَ

Artinya:
Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.


Kata azwaja adalah jamak dari kata zauj. Kandungan didalam ayat diatas menjelaskan pada kita bahwa, mereka adalah orang yang berbeda. Dan, jika mereka dipasangkan dipastikan ada perbedaan seperti dikutip dari tayangan Youtube Quran TV.

Baca Juga: Vaksinasi Lansia di Tulungagung Dapat Bonus Telur Satu Keranjang

Dari sisi lain, bahwa mereka dipasangkan ada juga kecocokan. Bagaimanakah memadukan antara perbedaan dan kecocokan dalam sebuah rumah tangga?

QS. An-Nisa ayat 21
وَكَيْفَ تَأْخُذُوْنَهٗ وَقَدْ اَفْضٰى بَعْضُكُمْ اِلٰى بَعْضٍ وَّاَخَذْنَ مِنْكُمْ مِّيْثَاقًا غَلِيْظًا

Artinya:
Dan bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal kamu telah bergaul satu sama lain (sebagai suami-istri). Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil perjanjian yang (agung) kuat (ikatan pernikahan) dari kamu. Kata مِّيْثَاقًا غَلِيْظًا (mitsaakoon gholiizoo) mengambil perjanjian agung.

Berpatokan pada kata diatas, maka setiap pasangan tidak seharusnya me-zoom in perbedaan diantara pasangan. Jika perbedaan itu diperbesar akan berbuah perselisihan, cekcok dll.

Baca Juga: Buntut Kabur Dari Karantina di Wisma Atlet, Polisi Segera Memanggil Rachel Vennya

Namun sebaliknya ketika persamaan yang diperbesar akan membuahkan keharmonisan.

Begitulah seharusnya dalam rumahtangga. Bagaimana membangun harmonisasi dalam sebuah rumah tangga. Banyak hal yang perlu dilakukan.

Salah satunya adalah saling menasehati. Istri menasehati suami begitu pula sebaliknya. Dan saling menasehati merupakan hal yang wajar di dalam hubungan rumah tangga.

Hubungan rumah tangga, suami-istri bukan layaknya seperti hubungan antara majikan dan buruh.

Dalam kehidupan rumah tangga, Rasul mencontohkan jika seharusnya kehidupan suami istri layaknya sebagai sahabat.

Baca Juga: Septian David Maulana Persembahkan Gol untuk Istri Tercinta yang Tengah Hamil

Rasul menyebut bahwa pernikahan sebagai penyempurna iman seseorang. Dan, sebagai pasangan harus saling menutupi kekurangan dan saling menasehati.

Begitulah yang telah dilakukan istri Umar kepada Umar. Umar menyadari sekaligus bisa mengerti bahwa apa yang dilakukan istrinya bukanlah hal yang salah. Bisa juga, karena istrinya capek, lelah, penat dan seterusnya. Belum tentu pula, apa yang dilakukan oleh suami selalu benar.

Filosofi untuk memadukan kecocokan harus diperbesar. Karena mereka adalah pasangan yang seharusnya membuahkan keharmonisan.

Keharmonisan dalam sebuah rumah tangga bisa di rasakan jika menerapkan hubungan Egaliter (sama).

Baca Juga: Taman Safari Prigen Jawa Timur Dibuka, Ini Harga Tiket dan Syarat Masuknya

Suami merupakan sahabat istri begitu sebaliknya. Dan, saling melengkapi.

Al-Baqara 187
هُنَّ لِبَاسٌ لَّـكُمۡ وَاَنۡـتُمۡ لِبَاسٌ لَّهُ�

Hunna libaasullakum wa antum libaasullahunna (Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka.)

Maknanya adalah fungsi dari pasangan sebagai pelengkap dan saling menutupi kekurangan sesama mereka. Bukan berarti istri kemudian bisa bersikap kurang ajar kepada suami. Begitu pula sebaliknya.

Rasulullah mengajarkan bagaimana suami mendidik istri dengan cara memukul, namun itu harus sesuai akhlak, harus sesuai adab dan tidak boleh sembarangan.

Baca Juga: Viral di Ngawi, Penumpang Wanita Tiba-tiba Hilang dari Atas Becak

Begitu pula bagi seorang istri harus sesuai akhlak dan adab saat mengingatkan atau memberi pandangan pada suami.

Khadijah RA menjadi istri Rasulullah tidak pernah bersikap kasar atau meninggikan suara saat bicara dihadapan Rasul.

Begitu pula sebaliknya. Akhlak luar biasa yang mereka contohkan. Akhlak itulah yang membuat hubungan rumah tangga mereka harmonis hingga bertahan selama 25 tahun.***

 

Halaman:
1
2
3
4
5

Editor: Linda Kusuma Wardhani

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X