• Minggu, 28 November 2021

Budidaya Ikan Cupang Ketami Kota Kediri Tetap Eksis

- Rabu, 5 Oktober 2016 | 09:50 WIB
587
587

AGTVnews.com - Budidaya ikan cupang hias di Jawa Timur, dari waktu ke waktu tidak pernah sepi peminat. Berbagai jenis ikan cupang hias silih berganti bermunculan, seiring minat dan hobi masyarakat.

Berbicara ikan cupang, belum lengkap bila tidak berkunjung ke Kelurahan Ketami Kota Kediri.

Di kelurahan paling pinggir Kota Kediri ini, terdapat ratusan rumah tangga yang beternak ikan cupang, baik sekadar sebagai penghasilan tambahan ataupun pekerjaan utama.

Salah satunya adalah Heru Sulistiyo, pria 50 tahun ini telah menggeluti budidaya ikan cupang sejak tahun 1997 hingga sekarang. Dibantu 2 pekerja, heru menjadikan budidaya ikan cupang sebagai pekerjaan utama.

Baca Juga: Miniatur Vespa dari Kaleng Bekas Minuman, Kreatifitas Tanpa Batas

| simak video berita terkait:

Menurut Heru, budidaya ikan cupang bisa dijadikan mata pencaharian bila ditekuni secara serius.

Ikan hias warna-warni dengan ciri kas berumbai-rumbai ini, diyakini akan tetap mendapat tempat dihati penghobi ikan karena tergolong eksotis dan harganya terjangkau semua kalangan, mulai anak-anak hingga dewasa.

Baca Juga: Ciri-ciri Pengamal Pesugihan, Akal Sehat Hilang dan Raja Tega

Pilih Jalur Benih

Selama hampir 20 tahun menekuni budidaya ikan cupang, Heru kini lebih fokus pada penyediaan benih.

Untuk menunjang sistem produksinya ia telah memiliki puluhan petak kolam beton untuk proses budidaya.

Koleksi induk ikan cupang yang dimiliki juga terbilang sangat lengkap yakni sekitar 2 ribu ekor. Terdiri dari aneka warna dan jenis, diantaranya halfmoon, serit, plakat, bangkok dan giant.

Penempatan induk ikan cupang terbilang simpel dan praktis, yakni ditaruh di botol plastik bekas air minum kemasan, satu botol berisi satu induk jantan.

Baca Juga: 4 Jenis Senapan Angin yang Perlu Diketahui Sebelum Membeli

Ikan cupang jantan wajib dipisah penempatannya saat memasuki usia remaja karena memiliki sifat petarung atau kanibal.

Pemeliharaan induk ikan cupang juga gampang, yakni cukup diganti air setiap dua atau tiga hari sekali sambil diberi makan cacing sutra.

Wadah yang dijajar rapi selanjutnya ditutup terpal agar tidak panas sekaligus mengurangi sifat petarung dari ikan.

Praktisnya pemeliharaan induk ikan cupang ini, memudahkan pembudidaya untuk mengkoleksi ribuan induk ikan cupang untuk proses pembuatan benih.

Baca Juga: Miniatur Vespa dari Kaleng Bekas Minuman, Kreatifitas Tanpa Batas

Proses pemijahan ikan cupang juga tidak kalah sederhana, yakni dengan memanfaatkan galon bekas cat 5 kilogram.

Proses perkawinan hingga penetasan telur cukup dilakukan di plastik galon tersebut. Plastik galon dapat disusun bertingkat untuk menghemat ruangan.

Proses Pemijahan Sederhana

Proses pemijahan untuk menghasilkan telur, diawali dengan pemilihan induk ikan cupang yang siap kawin.

Ditandai dengan pejantan yang mengeluarkan banyak gelembung di permukaan air dan betina yang memiliki bentuk tubuh buncit.

Ikan cupang siap dikawinkan saat usia 3 bulan atau lebih. Ikan cupang jantan dan betina yang telah disatukan dalam plastik galon, akan bertelur dalam waktu dua hari dan selang dua hari kemudian telah menetas.

Baca Juga: Persik Kediri Raih Kemenangan Perdana, Joko Susilo: Kita Masih Bisa Lebih Lagi

Pada usia 7 hari, anakan cupang bisa dipindah ke kolam beton. Tiap betina ikan cupang bisa menghasilkan anakan sekitar 300 ekor.

Pakan anakan ikan cupang adalah kutu air dan cacing sutra. Untuk memenuhi kebutuhan pakan, heru membuat sendiri kutu air di kolam khusus.

Selama menekuni budidaya ikan cupang, Heru mengaku tidak pernah kesulitan memasarkan.

Selama ini tengkulak datang langsung ke kampungnya karena memang telah dikenal sebagai sentra ikan cupang.

Baca Juga: Viral Fenomena Gancet, Begini Penjelasan Medisnya

Tiap bulan heru mentargetkan bisa menjual ikan cupang sebanyak 200 ribu ekor dengan nilai jual 20 juta rupiah.

Heru menyebut kendala utama budidaya ikan cupang adalah faktor alam, yakni fluktuasi suhu dan curah hujan yang tidak menentu.

Pada masa pancaroba tersebut, banyak benih yang gagal tumbuh karena serangan jamur dan bakteri yang ada di air. Untuk mensiasati kondisi ekstrem tersebut, dibutuhkan perhatian yang ekstra dalam budidaya.***

Halaman:

Editor: agtv

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Ini Kelemahan Kelemahan Timnas U-18 di Mata Coach STY

Rabu, 24 November 2021 | 16:13 WIB
X